THE RELATIONSHIP BETWEEN RELIGION AND SCIENCE IN POLICIES ON EARLY MARRIAGE IN INDONESIA: The Perspective Of Ian G Barbour
DOI:
https://doi.org/10.31102/alulum.12.4.2025.359-374Keywords:
Ian G. Barbour, Relasi Agama dan Sains, Kebijakan Publik, Pernikahan Dini.Abstract
The relationship between religion and science is a complex issue that often arises. In the context of early marriage, religion and science have different paradigms in responding to the age of marriage. The relationship between religion and science from Barbour's perspective is considered important to study in understanding and addressing the dynamics of early marriage age policies in Indonesia. This study aims to explore the relationship between religion and science in formulating marriage age policies in Indonesia. The method used in this study is library research. The results of this study explain that, (1) Ian G. Barbour categorizes the relationship between religion and science into four typologies: conflict, independence, dialogue, and integration. (2) Although early marriage practices still occur due to social, economic, and cultural factors, integrative efforts between religious views and scientific data (reproductive health, child psychology) show that the dialogue and integration approaches are effective bridges between religious values and modern scientific findings. (3) In the context of marriage age policies in Indonesia, the relationship between religion and science tends to move from conflict toward a model of dialogue and even integration. This is reflected in the alignment between state policy, through the revision of Law No. 1 of 1974 into Law No. 16 of 2019, and the MUI fatwa supporting marriage age restrictions for the greater good.
Downloads
References
[2] Wardah, A. K. Soleh, dan Wahyu, “Relasi Agama dan Sains menurut Ian G Barbour dalam Moderasi Beragama di Indonesia,” Setyaki: Jurnal Studi Keagamaan Islam, vol. 2, no. 1, hlm. 77–87, Feb 2024, doi: https://doi.org/10.59966/setyaki.v2i1.664.
[3] S. F. Nisa, N. F. Ramadhani, I. Faniyah, dan E. Lestariyanti, “Sains, Agama dan Paradigma Manusia di Era Disrupsi Digital: Analisis Tipologi Ian G Barbour,” PROSIDING KONFERENSI INTEGRASI INTERKONEKSI ISLAM DAN SAINS, vol. 4, no. 1, hlm. 286–291, 2022, Diakses: 26 Maret 2025. [Daring]. Tersedia pada: https://ejournal.uin-suka.ac.id/saintek/kiiis/article/view/3245
[4] A. Hannan, “Jalan Tengah Konflik Agama Sains dalam Vaksinasi Covid-19 Perspektif Pemikiran Ian G. Barbour,” KURIOSITAS: Media Komunikasi Sosial dan Keagamaan, vol. 15, no. 1, hlm. 43–78, Jun 2022, doi: 10.35905/kur.v15i1.2562.
[5] D. Handayani, “Integrasi Agama dan Sains Menurut Ian G. Barbour dan Sumbangannya terhadap Kajian Keislaman,” Tsamratul Fikri , vol. 16, no. 1, hlm. 1–10, 2022, doi: https://doi.org/10.36667/tf.v16i1.958.
[6] M. I. Arief, “Kebenaran Absolut Versus Kebenaran Ilmiah: Perjumpaan Titik Temu Agama dan Sains dalam Perspektif Ian Barbour,” Jurnal Religion: Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya, vol. 1, no. 2, hlm. 1–15, Mar 2022, doi: https://doi.org/10.55606/religion.v1i2.98.
[7] M. A. Yaqin, E. W. Astuti, C. E. Anggraini, dan A. F. Hidayatullah, “Integrasi Ayat-ayat Al-Qur’an dalam Pembelajaran Sains (Biologi) Berdasarkan Pemikiran Ian G. Barbour,” SPEKTRA: Jurnal Kajian Pendidikan Sains, vol. 6, no. 1, hlm. 78–83, 2020, doi: http://dx.doi.org/10.32699/spektra.v6vi1i.119.
[8] N. A. Juliatiningsih, M. Sholikhah, W. I. Sari, I. Amaliyah, dan A. F. Hidayatullah, “Fenomena Sains dalam Al-Qur’an Perspektif Ian G. Barbour dan Ismail Raji Al-Faruqii,” JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan, vol. 6, no. 1, hlm. 96–110, Jul 2020, doi: 10.24235/jy.v6i1.5541.
[9] F. Meliani, N. F. Natsir, dan E. Haryanti, “Sumbangan Pemikiran Ian G. Barbour mengenai Relasi Sains dan Agama terhadap Islamisasi Sains,” JIIP - Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, vol. 4, no. 7, hlm. 673–688, Nov 2021, doi: 10.54371/jiip.v4i7.331.
[10] Muhaini, “Meretas Konflik Sains Dan Agama (Dalam Perspektif Amin Abdullah dan Ian G. Barbour),” At-Tafkir, vol. 13, no. 1, hlm. 95–111, 2020, doi: 10.32505/at.v13i1.1719.
[11] M. Zed, Metode Penelitian Kepustakaan . Jakarta: Yayasan Obor, 2004.
[12] S. N. Rahmawati dan A. K. Soleh, “Nilai-Nilai Ibadah dalam Perspektif Filsafat Isyraqi Suhrawardi Al-Maqtul,” Risalah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam, vol. 10, no. 2, hlm. 638–650, Jun 2024, doi: https://doi.org/10.31943/jurnal_risalah.v10i2.658.
[13] I. G. Barbour, Juru Bicara Tuhan: Antara Sain dan Agama. Bandung: Mizan, 2002.
[14] M. Muslih, H. Wahyudi, dan A. R. Kusuma, “Integrasi Ilmu dan Agama menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas dan Ian G Barbour,” Jurnal Penelitian Medan Agama, vol. 13, no. 1, hlm. 20–35, Jun 2022, doi: 10.58836/jpma.v13i1.11740.
[15] M. J. as-Shodiq, “Manajemen Strategis Perguruan Tinggi Islam dalam Mengintegrasikan Sains dan Agama (Studi Kasus di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang),” AL-HIKMAH: Jurnal Kependidikan, vol. 8, no. 1, hlm. 133–149, Mar 2020, Diakses: 27 Maret 2025. [Daring]. Tersedia pada: https://ejournal.badrussholeh.ac.id/index.php/Al-Hikmah/article/view/146
[16] M. Hajita, “Paradigma Integrasi Agama dan Sains dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam,” TA’LIM : Jurnal Studi Pendidikan Islam, vol. 7, no. 2, hlm. 265–289, Jul 2024, doi: 10.52166/talim.v7i2.6614.
[17] Ach. M. Syamsuddin, Integrasi Multidimensi Agama dan Sains : Analisis Sains Islam al-Attas dan Mehdi Golshani. Yogyakarta: IRCiSoD, 2012.
[18] R. Amrillah dan L. Hakim, “Pandangan Kritis Syed Hossein Nasr Terhadap Relasi Sains dan Agama,” Perspektif: Jurnal Pendidikan, Politik, Budaya, Bahasa, Manajemen, Komunikasi, Pemerintahan, Humaniora, dan Ilmu Sosial, vol. 1, no. 5, hlm. 525–533, 2022.
[19] N. Pratiwi, M. Mustafa, dan Abdullah, “Analisis Perspektif Ismail Raji Al-Faruqi dan Seyyed Hossein Nasr tentang Islam dan Sains,” Al-Ubudiyah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam, vol. 4, no. 1, hlm. 69–77, 2023, doi: 10.55623/au.v4i1.167.
[20] M. Taqiyuddin, “Hubungan Islam dan Sains: Tawaran Syed Muhammad Naquib Al-Attas,” Islamadina : Jurnal Pemikiran Islam, vol. 22, no. 1, hlm. 81–104, Mar 2021, doi: 10.30595/islamadina.v22i1.7216.
[21] A. Sahidin, “Islamisasi Ilmu Pengetahuan Al-Attas Menjawab Problematika Sekularisme Terhadap Ilmu Pengetahuan,” IMTIYAZ: Jurnal Ilmu Keislaman, vol. 6, no. 2, hlm. 113–126, Sep 2022, doi: 10.46773/imtiyaz.v6i2.354.
[22] Pemerintah Pusat, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Indonesia, 2019, hlm. 1–8.
[23] M. Ilma, “Regulasi Dispensasi dalam Penguatan Aturan Batas Usia Kawin bagi Anak Pasca Lahirnya UU No. 16 Tahun 2019,” AL-MANHAJ: Jurnal Hukum dan Pranata Sosial Islam, vol. 2, no. 2, hlm. 133–166, 2020, doi: 10.37680/almanhaj.v2i2.478.
[24] R. Adawiyah, Asasriwarni, dan H. Sulfinadia, “Analisis Batas Usia Perkawinan Pada UU No. 16 Tahun 2019 atas Perubahan UU No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan (Studi Terhadap Pandangan Ilmuan Kota Padang tentang Perubahan Batas Usia Perkawinan),” Hukum Islam, vol. 21, no. 2, hlm. 256–278, Des 2021, doi: 10.24014/jhi.v21i2.11711.
[25] M. J. Rifqi, “Dinamika Perkembangan Batas Usia Perkawinan Dalam Perspektif Hukum Progresif,” Arena Hukum, vol. 15, no. 2, hlm. 285–306, Jun 2022, doi: 10.21776/ub.arenahukum.2022.01502.4.
[26] M. Fajri, “Interpretasi Perubahan Batas Minimal Usia Perkawinan Perspektif Maslahat,” Jurnal Al-Qadau: Peradilan dan Hukum Keluarga Islam, vol. 7, no. 1, hlm. 59–69, Jun 2020, doi: 10.24252/al-qadau.v7i1.14435.
[27] Nahdiyanti, A. Yunus, dan N. Qamar, “Implementasi Perubahan Kebijakan Batas Usia Perkawinan Terhadap Perkawinan Di Bawah Umur ,” Journal of Lex Generalis (JLS), vol. 2, no. 1, hlm. 150–167, Jan 2021, doi: https://doi.org/10.52103/jlg.v2i1.313.
[28] Indanah, U. Faridah, M. Sa’adah, S. H. Sa’diyah, S. M. Aini, dan R. Apriliya, “Faktor yang Berhubungan dengan Pernikahan Dini,” Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan, vol. 11, no. 2, hlm. 280–290, 2020, doi: 10.26751/jikk.v11i2.796.
[29] A. A. Pangestika, N. L. Nisa, dan W. Hami, “Pernikahan Dini dalam Perspektif Agama Islam: Sisi Positif dan Negatif,” Al-Usrah: Jurnal Hukum Islam dan Hukum Keluarga, vol. 4, no. 2, hlm. 215–234, 2024, doi: https://doi.org/10.24260/al-usroh.v4i2.2120.
[30] A. P. Widyadhara dan T. M. Putri, “Pengaruh Pernikahan Dini terhadap Kesehatan Mental dan Fisik: Sistematik Review,” Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat : Media Komunikasi Komunitas Kesehatan Masyarakat, vol. 13, no. 4, hlm. 198–205, Nov 2021, doi: 10.52022/jikm.v13i4.79.
[31] W. L. Tsani, “Trend Ajakan Nikah Muda Ditinjau dalam Aspek Positif dan Negatif,” El-Usrah: Jurnal Hukum Keluarga, vol. 4, no. 2, hlm. 418–429, Des 2021, doi: 10.22373/ujhk.v4i2.8271.
[32] F. Indriani, N. H. Pratama, R. N. B. Sitepu, dan Y. A. Harahap, “Dampak Tradisi Pernikahan Dini Terhadap Kesehatan Reproduksi Pada Wanita : Literature Review,” Journal of Science and Social Research, vol. 6, no. 1, hlm. 1–8, Feb 2023, doi: 10.54314/jssr.v6i1.1150.
[33] W. Ayuwardany dan A. Kautsar, “Faktor-faktor Probabilitas Terjadinya Pernikahan Dini dI Indonesia,” Jurnal Keluarga Berencana, vol. 6, no. 2, hlm. 49–57, 2021, doi: 10.37306/kkb.v6i2.86.
[34] A. Adam, “Dinamika Pernikahan Dini,” Al-Wardah: Jurnal Kajian Perempuan, Gender dan Agama, vol. 13, no. 1, hlm. 14–24, Jun 2020, doi: 10.46339/al-wardah.v13i1.155.
[35] Y. S. Almahisa dan A. Agustian, “Pernikahan Dini Dalam Perspektif Undang-Undang Perkawinan Dan Kompilasi Hukum Islam,” Jurnal Rechten : Riset Hukum dan Hak Asasi Manusia, vol. 3, no. 1, hlm. 27–36, Apr 2021, doi: 10.52005/rechten.v3i1.24.
[36] M. Ali dan R. Hanafi, “Pembaruan Hukum Batas Usia Perkawinan (Perspektif Hukum Islam dan Kesetaraan Gender),” Jurnal Syariah dan Hukum Islam, vol. 1, no. 1, hlm. 54–69, 2022, Diakses: 27 Maret 2025. [Daring]. Tersedia pada: https://journal.iaidalampung.ac.id/index.php/jshi/article/view/39
[37] K. S. Rohana dan Sainun, “Pernikahan Dini dalam Perspektif Hukum Islam: Studi Kasus di Lombok,” Jurnal Intelektualita: Keislaman, Sosial dan Sains, vol. 13, no. 1, hlm. 119–128, Jun 2024, doi: 10.19109/intelektualita.v13i1.22713.
[38] Moh. A. Wafa, Hukum Perkawinan di Indonesia: Sebuah Kajian dalam Hukum Islam dan Hukum Materil. Tangerang Selatan: YASMI (Yayasan Asy-Syari’ah Modern Indonesia), 2018.
[39] S. Y. Sekarayu dan N. Nurwati, “Dampak Pernikahan Usia Dini Terhadap Kesehatan Reproduksi,” Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (JPPM), vol. 2, no. 1, hlm. 37–45, 2021, doi: 10.24198/jppm.v2i1.33436.
[40] Mahkamah Konstitusi, “MK Nomor 30-74/PUU-XII/2014,” 2014. Diakses: 20 Juni 2025. [Daring]. Tersedia pada: https://www.mkri.id/public/content/persidangan/putusan/30-74_PUU-XII_2014.pdf
[41] A. Supyan dan Nugraha, “Batas Usia Perkawinan Berdasarkan Hukum Islam dan Perundang-Undangan di Indonesia,” MIM: Jurnal Kajian Hukum Islam, vol. 1, no. 1, hlm. 80–95, 2023, Diakses: 28 Maret 2025. [Daring]. Tersedia pada: https://ejournal.stai-mifda.ac.id/index.php/jmkhi/article/view/141
[42] A. Ropei, “Maqashid Syari’ah dalam Pengaturan Batas Usia Pernikahan di Indonesia,” Asy-Syari’ah, vol. 23, no. 1, hlm. 1–20, Jun 2021, doi: 10.15575/as.v23i1.10607.
[43] K. F. Fatma, “PUTUSAN MK. NO 22/PUU-XV/2017 TENTANG BATAS USIA PERNIKAHAN BAGI PEREMPUAN ( STUDY PENDAPAT TOKOH MUI, NU, MUHAMMADIYAH DI JATENG),” UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO, Semarang, 2020.
[44] M. Siswanto, “Fatwa-Fatwa Hukum Keluarga Majelis Ulama Indonesia Tahun 1975-2012 dalam Perspektif Maqashid Al-Syari’ah,” Hukum Islam, vol. 21, no. 2, hlm. 205–235, 2021, doi: 10.24014/jhi.v21i2.11520.
[45] H. N. Umah, “Fenomena Pernikahan Dini di Indonesia Perspektif Hukum-Keluarga-Islam,” Jurnal Al Wasith: Jurnal Studi Hukum Islam , vol. 5, no. 2, hlm. 107–125, 2020, Diakses: 28 Maret 2025. [Daring]. Tersedia pada: https://doi.org/10.52802/wst.v5i2.11
[46] Nurul dan Din, “MUI Tegaskan Pentingnya Revisi Paradigma Usia Dewasa Menikah,” MUI Digital, 18 Maret 2021. Diakses: 21 Juni 2025. [Daring]. Tersedia pada: https://mirror.mui.or.id/berita/29873/mui-tegaskan-pentingnya-revisi-paradigma-usia-dewasa-menikah/
[47] A. Rosyid, “Pergeseran Paradigma Agama dan Sains di Tengah Pandemi Covid dalam Kaca Mata Thomas Kuhn,” ASKETIK: Jurnal Agama dan Perubahan Sosial, vol. 4, no. 2, hlm. 234–254, 2020, doi: 10.30762/asketik.v4i2.972.
[48] H. Naja, A. N. Rizqi, R. D. Zahroh, A. A. Mahardika, dan A. F. Hidayatullah, “Integrasi Sains dan Agama (Unity of Science) dan Pengaplikasiannya terhadap Penerapan Materi Reproduksi dan Embriologi,” Bioedukasi: Jurnal Pendidikan Biologi, vol. 13, no. 2, hlm. 70–73, Agu 2020, doi: 10.20961/bioedukasi-uns.v13i2.37660.
[49] Z. Hakim, “Peran Fatwa MUI Sebagai Produk Hukum Islam dalam Masyarakat,” Al’Adalah: Jurnal of Islamic Studies, vol. 24, no. 2, hlm. 105–118, 2021, doi: 10.35719/aladalah.v24i2.77.










_.png)

